Pemeriksaan darah rutin meliputi 6 jenis
pemeriksaan; yaitu
- Hemoglobin
/ Haemoglobin (Hb)
- Hematokrit
(Ht)
- Leukosit:
hitung leukosit (leukocyte count) dan hitung jenis (differential
count)
- Hitung
trombosit / platelet count
- Laju
endap darah (LED) / erythrocyte sedimentation rate (ESR)
- Hitung
eritrosit (di beberapa instansi)
Hemoglobin (Hb)
Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL, wanita 12-16 gram/dL,
wanita hamil 10-15 gram/dL
Nilai normal anak 11-16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL,
neonatus 14-27 gram/dL
- Hb
rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia
defisiensi besi. Sebab lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan
berat, hemolisis, leukemia leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet
vegetarian ketat (vegan). Dari obat-obatan: obat antikanker, asam
asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid. Ambang bahaya
adalah Hb < 5 gram/dL.
- Hb
tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal
jantung, COPD (bronkitis kronik dengan cor pulmonale),
dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia vera, dan pada penduduk
pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan: metildopa dan gentamisin.
Hematokrit
Nilai normal dewasa pria 40-54%, wanita 37-47%, wanita hamil 30-46%
Nilai normal anak 31-45%, batita 35-44%, bayi 29-54%, neonatus 40-68%
Hematokrit merupakan persentase konsentrasi eritrosit dalam plasma
darah. Secara kasar, hematokrit biasanya sama dengan tiga kali hemoglobin.
- Ht
tinggi (> 55 %) dapat ditemukan pada berbagai kasus yang
menyebabkan kenaikan Hb; antara lain penyakit Addison, luka bakar,
dehidrasi / diare, diabetes melitus, dan polisitemia. Ambang bahaya adalah
Ht >60%.
- Ht
rendah (< 30 %) dapat ditemukan pada anemia, sirosis hati,
gagal jantung, perlemakan hati, hemolisis, pneumonia, dan overhidrasi.
Ambang bahaya adalah Ht <15%.
Leukosit (Hitung total)
Nilai normal 4500-10000 sel/mm3
Neonatus 9000-30000 sel/mm3, Bayi sampai balita rata-rata
5700-18000 sel/mm3, Anak 10 tahun 4500-13500/mm3, ibu
hamil rata-rata 6000-17000 sel/mm3, postpartum 9700-25700 sel/mm3
Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri,
virus, parasit, dan sebagainya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan
leukositosis yaitu:
- Anemia hemolitik
- Sirosis hati dengan
nekrosis
- Stres emosional dan
fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga)
- Keracunan berbagai
macam zat
- Obat: allopurinol,
atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan sulfonamid.
Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat disebabkan oleh
agranulositosis, anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi
virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari
segi obat antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina, kloramfenikol, diuretik,
arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya.
Leukosit (hitung jenis)
Nilai normal hitung jenis
- Basofil 0-1%
(absolut 20-100 sel/mm3)
- Eosinofil 1-3%
(absolut 50-300 sel/mm3)
- Netrofil batang 3-5%
(absolut 150-500 sel/mm3)
- Netrofil segmen
50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm3)
- Limfosit 25-35%
(absolut 1750-3500 sel/mm3)
- Monosit 4-6%
(absolut 200-600 sel/mm3)
Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali
untuk penyakit alergi di mana eosinofil sering ditemukan meningkat.
- Peningkatan
jumlah netrofil (baik batang maupun segmen) relatif dibanding limfosit dan
monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left. Infeksi yang disertai shift to the left biasanya
merupakan infeksi bakteri dan malaria. Kondisi noninfeksi yang dapat
menyebabkan shift to the
left antara lain asma dan penyakit-penyakit alergi lainnya,
luka bakar, anemia perniciosa, keracunan merkuri (raksa), dan polisitemia
vera.
- Sedangkan peningkatan jumlah limfosit
dan monosit relatif dibanding netrofil disebut shift to the right. Infeksi yang
disertai shift to the right biasanya
merupakan infeksi virus. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the right antara
lain keracunan timbal, fenitoin, dan aspirin.
Trombosit
Nilai normal dewasa 150.000-400.000 sel/mm3, anak
150.000-450.000 sel/mm3.
- Penurunan trombosit (trombositopenia)
dapat ditemukan pada demam berdarah dengue, anemia, luka bakar, malaria,
dan sepsis. Nilai ambang bahaya pada <30.000 sel/mm3.
- Peningkatan trombosit (trombositosis)
dapat ditemukan pada penyakit keganasan, sirosis, polisitemia, ibu hamil,
habis berolahraga, penyakit imunologis, pemakaian kontrasepsi oral, dan
penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak berbahaya, kecuali jika
>1.000.000 sel/mm3.
Laju endap darah
Nilai normal dewasa pria <15 mm/jam pertama, wanita <20 mm/jam
pertama
Nilai normal lansia pria <20 mm/jam pertama, wanita <30-40 mm/jam
pertama
Nilai normal wanita hamil 18-70 mm/jam pertama
Nilai normal anak <10 mm/jam pertama
- LED yang
meningkat menandakan adanya infeksi atau inflamasi, penyakit imunologis,
gangguan nyeri, anemia hemolitik, dan penyakit keganasan.
- LED yang
sangat rendah menandakan gagal jantung dan poikilositosis.
Hitung eritrosit
Nilai normal dewasa wanita 4.0-5.5 juta sel/mm3, pria
4.5-6.2 juta sel/mm3.
Nilai normal bayi 3.8-6.1 juta sel/mm3, anak 3.6-4.8 juta sel/mm3.
- Peningkatan
jumlah eritrosit ditemukan pada dehidrasi berat, diare, luka bakar,
perdarahan berat, setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemia sickle
cell.
- Penurunan
jumlah eritrosit ditemukan pada berbagai jenis anemia, kehamilan,
penurunan fungsi sumsum tulang, malaria, mieloma multipel, lupus, konsumsi
obat (kloramfenikol, parasetamol, metildopa, tetrasiklin, INH, asam
mefenamat)
Laju Endap Darah
Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) adalah kecepatan
sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED
merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses
inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis),
penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis
(misalnya kehamilan). berfungsi untuk mengukur kecepatan pengendapan darah
merah di dalam plasma ( mm/jam ).
merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah untuk mengetahui
tingkat peradangan dalam tubuh seseorang.
Variasi Kelainan Besar Eritrosit ( SIZE )
1.
Makrositosis
Keadaan dimana diameter rata–rata eritrosit lebih dari 8,5 mikron
dengan tebal rata-rata 2,2-2,3 mikron. Dapat ditemukan pada anemia
megaloblastik, anemia aplastik / hipoplastik, leukemia, hipotiroidisme,
penyakit saluran cerna dengan gangguan absorpsi, kegagalan ginjal, kehamilan,
malnutrisi, dan post splenektomi. Makrosit dengan bentuk agak oval dengan
diameter 12-15 mikron disebut megalocyt ditemukan pada anemia defisiensi
vitamin B12 atau defisiensi asam folat.
2.
Mikrositosis
Keadaan dimana eritrosit kurang dari 7 mikron, tebal rata-rata
1,5-1,6 mikron. Dapat ditemukan pada anemia defisiensi besi, thalasemia,
keracunan tembaga, anemia sideroblastik, Idiopathie pulmonary hemosidrosis,
anemia pada penyakit menahun.
3.
Anisositosis
Keadaan dimana ukuran besarnya eritrosit bervariasi, jadi terdapat
makro, normo, dan mikrosit, sedang bentuknya sama. Ditemukan pada anemia
kronika yang berat.
Variasi Warna Eritrosit ( STAINNING )
1.
Normokromia
Keadaan eritrosit dengan konsentrasi Hb normal dan daerah pucat bagian tengah
dalam batas normal.
2.
Hipokromia
Keadaan eritrosit dengan konsentrasi kurang dari normal. Bila daerah pucat di
central melebar, terjadilah “ring erythrocyte” atau anulosit. Ditemukan pada
thalasemia, hemoglobinopathi C atau E, anemia sideroblastik, dan penyakit
menahun.
3.
Hiperkromia
Keadaan eritrosit dengan warna oxyphil yang lebih dari normal bukan karena
kejenuhan Hb, melainkan karena penebalan membran sel. Ditemukan pada
spherocytosis.
4.
Polikromasia
Keadaan eritrosit terdapat beberapa warna dalam sebuah lapang pandang sediaan
darah apus eritrosit. Ditemukan pada eritropoeisis aktif, gangguan eritropoeisis
( myelosklerosis ), hdan hemopoeisis ekstramedular.
Variasi Bentuk Eritrosit ( SHAPE )
1.
Poikilositosis
Keadaan terdapat bermacam-macam bentuk eritrosit dalam satu sediaan
darah apus, misalnya pada hemoposis extramedullaris.
2.
Crenated cell / Echinocyte / Crenated Erythrocyte
Keadaan eritrosit mengkerut karena kehilangan cairan pada media
hipertonis/dalam suasana lembab lama (sel dengan tepi berkelok – kelok).
3. Schistosit
/ Fragmentosit
Keadaan adanya fragmen di sirkulasi, bentuk kecil dan tidak beraturan.
Terjadi akibat peningkatan trauma mekanis intravaskuler dam mikroangiopati.
4. Shapped Sel
Bentuk eritrosit seperti buah pear.
5. Anulosit
Sel
Central pollar pada eritrosit mengalami pelebaran.
6. Burr Cell /
Sea Urchin Cell
Muncul akibat kesalahan waktu pembuatan apusan darah, manifestasi
penyakit tertentu atau gangguan metabolism tubuh. Sel dengan tonjolan duri ( 10
– 30 buah ) karena pecahnya membran sel. Ditemukan pada anemia hemolitik,
hepatitis, chirchosis hepatis, Pyruvate kinase deficiency, Ca gaster, Bleeding
peptic ulcer, dan penyakit ginjal menahun.
7. Ovalocyte /
Elliptical Cell / Elliptocyte
Mempunyai bentuk yang sangat bervariasi yaitu oval, pensil, dan cerutu
dengan konsentrasi Hb tidak hipokromik tapi berkumpul di kedua kutub sel. Ciri
khas dari sel ini adalah bentuk silinder dan tengahnya pucat. Ditemukan pada
Elliptositosis herediter ( lebih dari 95 % eritrosit berbentuk elliptosit ),
anemia defisiensi besi, B12, asam folat, sickle cell anemia,
thalasemia, hemolitik desease.
8.
Stomatocytes
Keadaan eritrosit pada bagian tengah sel mengalami pemucatan dan tidak
berbentuk lingkaran tapi memanjang seperti celah bibir mulut. Ditemukan pada
stomatositosis herediter, penyakit keganasan, anemia hemolitik, thalasemia, dan
keracunan timah.
9.
Target Cell / Mexican Hat Cell / Bull’s Eye Cell
Keadaan dimana eritrosit dengan permukaan luas, bundar, tengahnya
menonjol sehingga tampak lebih gelap dikelilingi daerah pucat, tepi sel terjadi
penumpukan dan warna Hb seperti topi Meksiko. Dapat ditemukan pada thalasemia,
penyakit hati, lecithin cholesterol acyl transferase defisiensi.
10. Thorn Cell,
Acanthocytes, Super cell.
Sel-sel tersebut termasuk dalam sel spikel ( spicule cell) yaitu
eritrosit dengan tonjolan seperti duri yang lancip. Terjadi karena gangguan
metabolism lipid. Ditemukan pada pyruvate kinase deficiency, post splenektomi,
pengaruh pengobatan heparin. (Ranggani,1989)
11. Spherocytes,
Microshrerocytes, sperosit.
Sel-sel tersebut bundar, gelap, uniform, lebih kecil dari eritrosit.
Bentuk eritrosit sferikdengan tebal 3 mikron dan diameternya kurang dari 5,3
mikron dan hiperkromik. Terdapat pada sferositosis herediter, anemia iso dan
auto-immunohemolitik.
12. Sickle Cell /
Meniscocytes / Crescent Cell
Berbentuk menyerupai bulan sabit, lanset, dengan kedua ujung lancip.
Terjadi karena gangguan oksigenasi sel, resistensi osmotic meningkat. Ditemukan
pada penyakit homozygote Hb S, penyakit Hb SC, penyakit Hb S thalasemia
sindrom, penyakit Hb I.
13. Tear Drop Cell / Sel
buah Pear.
Memiliki ukuran lebih kecil dari eritrosit normal, hipokromik karena
distorsi fragmen eritrosit. Ditemukan pada anemia megaloblastik, Myelofibrosis,
thalasemia.
14. Helmet Cell / Dome
Cell
Bentuk bundar, tepi sebagian
cembung dan cekung
15. Piknosit / Pyknocyte / Irregular Contracted Cell
Sel burr yang mengalami pengkerutan, tampak kecil dan hitam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar